RSS

Acara TV yang Ramah Keluarga: Morals by Agreement

Kebiasaan di keluarga kami kalau ada acara TV yang berisi kekerasan maka akan segera dipindah ke acara TV lain. Anak-anak jadi terbiasa dengan hal itu. Asalkan ada berita atau acara dengan kata-kata atau gambar yg memperlihatkan kekerasan maka secara spontan mereka akan memindahkannya ke acara TV lain.

Berita kriminal, berdarah-darah, pembunuhan, perkelahian dan lain-lain yang sejenis akan absen dari rumah kami. Kami tidak memperkenankan aura negatif dari acara kekerasan di TV masuk dan mendiami rumah kami tanpa seijin kami terlebih dahulu.

Perilaku kami terinspirasi oleh studio TV di Pittsburgh, Pennsylvania, AS di pertengahan tahun 90-an. Ada salah satu studio TV yang tidak akan mau menyiarkan berita kekerasan, kriminal, kecelakaan dan yg berdarah-darah lainnya sebelum jam 11 malam. TV tersebut menyebut dirinya sebagai TV yang menyiarkan family sensitive news.

TV yang mengadopsi itu mengharapkan akan banyak pemirsa yang akan mendukung upaya tersebut. Kenapa? Karena Pittsburgh memang terkenal sebagai salah satu kota pilihan yang baik untuk membesarkan keluarga. Segala urusan untuk kebaikan buat keluarga menjadi hal penting di Pittsburgh. Karena itu TV yang mengadopsi family sensitive news mengharapkan langkah ini sebagai suatu strategi bisnis yang bagus..

Kami mengimpikan ada TV di Indonesia yang berani mengadopsi prinsip itu. Berani menampilkan acara TV tanpa kekerasan dll., baik verbal maupun visual di waktu ketika banyak anak-anak sedang menonton TV.

Kenapa perlu keberanian?

Ternyata ini menyangkut masalah risiko bisnis. Penonton dimana-mana ternyata menyukai acara atau berita yang menyiarkan kekerasan. Baik di Amerika maupun di Indonesia. Tanpa berita atau acara kriminal atau kekerasan atau yg berdarah-darah bisa jadi TV tersebut akan ditinggalkan penonton. TV yang ditinggalkan oleh penonton akan merugi karena perusahaan akan enggan memasang iklan ke sana. Iklan adalah sumber panghasilan TV.

Bagaimana melihatnya?

Ini akan terlihat dari rating yg diperoleh TV untuk suatu acara yang disiarkannya. Kalau ratingnya rendah maka ia akan dijauhi oleh para pemasang iklan. Ini berarti kerugian bisnis buat pihak TV.

Ketika masalah gejala penurunan rating ini ternyata betul-betul dialami oleh TV di Pittsburgh tadi maka ia pun akhirnya mulai meninggalkan konsep family sensitive news. Ia dipaksa kembali melakukanbusiness as usual seperti TV lainnya; ia menyiarkan kembali acara atau berita terkait kekerasan agar jangan ditinggalkan pemirsa.

Dari ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa pihak TV akan bersedia menyiarkan acara yg baik asalkan hal itu memang didukung oleh masyarakatnya. Ini dibuktikan lewat rating yg diperoleh TV tersebut. Semakin tinggi ratingnya berarti ia semakin diminati masyarakat. Itu menguntungkan bisnisnya. Semakin rendah ratingnya berarti ia semakin dijauhi oleh masyarakat. Itu merugikan bisnisnya.

Jadi apa yang baik buat masyarakat tidak akan otomatis menjadi pilihan untuk disajikan menjadi suatu acara TV. Setiap acara TV akan ditimbang-timbang apaka ia menguntungkan atau merugikan bisnisnya.

Ini semacam mekanisme voting juga. Masyarakat memberikan vote terhadap acara TV yang disukai, tidak memberikan vote terhadap acara TV yang tidak disukai. Ini tercermin lewat ratingnya. Artikel terkait mekanisme voting bisa dilihat disini.

Rating ini merupakan cerminan gambaran tentang pemahaman masyarakat tentang apa yang baik dan buruk baginya. Ternyata apa yang dianggap baik atau buruk ditentukan oleh kesepakatan dengan masyarakat. Inilah morals sebagai produk dari kesepakatan masyarakat: morals by agreement.

Bagaimana solusi bisnis bagi studio TV untuk masalah tersebut? Apa boleh buat masalah bisnis ini akan diselesaikan dengan matematika. Morals by agreement ini ternyata tidak lain hanyalah suatu masalah constrained optimization.

Terasa aneh, masalah morals tiba-tiba pindah ke masalah matematika.  Masalah morals bergeser menjadi masalah bisnis untuk menghindari kerugian finansial dan selanjutnya masalah tersebut bisa diselesaikan dengan matematika. Inilah rumusan matematikanya: minimizing the expected finansial loss subject to its ratings. Itu aja.

Ajaib!

Bagi yang berminat, silakan membaca buku berjudul Morals by Agreement ditulis oleh David Gauthier, profesor emiritus untuk jurusan filsafat di the University of Pittsburgh.

Salam dari Bandung.

 
Leave a comment

Posted by on Monday, 18 November 2013 in Uncategorized

 

Perdagangan internasinal dan impersonal cooperation

Salah satu sisi perdagangan internasional yang dilakukan oleh suatu negara adalah impor. Sisi yang lain bernama ekspor. Contohnya, Indonesia mengimpor hp, tablet, laptop, pc, software, tv, mobil, motor, arloji, dsb. Semua barang impor tadi sangat bermanfaat buat masyarakat Indonesia.

Aktifitas kehidupan masyarakat Indonesia dengan barang-barang impor tersebut akan lebih meningkat dibandingkan kalau barang-barang tadi tidak diimpor oleh Indonesia. Demikian pula dengan kreativitas masyarakat Indonesia yang akan bisa tersalurkan dengan lebih baik melalui berbagai barang impor. Contohnya, aktifitas anda membaca atau menulis di Kompasiana ini pun menjadi lebih mudah dilakukan dikarenakan oleh barang impor.

Impor memudahkan masyarakat Indonesia menjalani kehidupan ini. Tanpa barang impor mungkin hidup anda akan bertambah berat. Dengan kata lain, impor mempunyai potensi untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia. Inilah manfaat dari impor.

Apa manfaat ekspor?

Apakah anda pernah merasakan manfaat dari ekspor yang dilakukan Indonesia? Mungkin anda bingung menjawabnya karena anda bukan eksportir. Memang eksportirlah yang mendapat manfaat langsung dari ekspor. Selama anda bukan eksportir maka anda tidak akan merasakan langsung manfaat dari aktifitas ekspor Indonesia.

Namun dapatkan Indonesia mengimpor barang kalau Indonesia tidak pernah ekspor? Jawabnya: tidak bisa. Jadi supaya anda bisa mengimpor suatu barang maka harus ada orang lain yang melakukan aktifitas ekspor sebagai sumber devisa.

Kehidupan anda menjadi lebih mudah dijalani karena keberadaan barang impor dan ini difasilitasi oleh orang lain yang melakukan ekspor. Mungkin pada mulanya anda tidak menikmati manfaat ekspor secara langsung. Sekalipun anda tidak mengenal eksportinya, namun sebetulnya anda mendapat manfaat dari kehadirannya.

Eksportir juga mendapat berbagai kemudahan dari barang-barang yang diimpor untuk aktifitas perencanaan produk, produksi, kontrol, kemasan, pemasaran, distribusi, dan urusan logistik lainnya.

Dapatkah sekarang disimpulkan bahwa ternyata manfaat (benefit) perdagangan internasional terletak pada aktifitas impor? Sedangkan beban biaya (cost) pengorbanan yang harus ditanggung suatu negara supaya bisa melakukan aktifitas impor adalah aktifitas ekspor?

Bila kesimpuannya iya, maka impor adalah benefit sedangkan ekspor adalah cost. Impor adalah manfaat, ekspor adalah beban. 

Perdagangan internasional adalah bentuk kerjasama (cooperation) yang melibatkan berbagai unsur masyarakat di dunia. Sekalipun individu yang terlibat di dalamnya tidak saling mengenal.

Anda membeli dan memanfaatkan Windows tanpa anda perlu mengenal dulu Bill Gates (serta pegawai Microsoft-nya) dan sebaliknya mereka juga tidak perlu mengenal anda. Sekalipun tidak saling kenal, namun aktifitas jual-beli Windows melalui perdagangan internasional tetap terjadi.

Pelaku perdagangan (domestik atau internasional) memang bisa tidak saling mengenal tapi mereka bisa bekerja sama untuk saling memberi manfaat. Anda dapat manfaat dari Bill Gates, Bill Gates sendiri juga dapat manfaat dari anda. Anda tidak perlu saling kenal untuk saling bekerja sama dan saling memberi manfaat. Aneh ya?

Inilah bentuk kerjasama yang disebut impersonal cooperation.

Setiap orang terlibat dalam impersonal cooperation selama ia tinggal di bumi dan melakukan transaksi jual-beli. Karena itu setiap orang membawa manfaat bagi masyarakatnya. Se-egois apapun orangnya, ia tetap bermanfaat bagi masyarakatnya asalkan ia berperan sebagai penjual atau pembeli. Ia hanya memilih jalur minimalis saja. Berpikiran positif nih ye. 🙂

Indah sekali paradigma ini. 

Siapa yang menyuruh mereka bekerjasama dan saling memberi manfaat satu sama lain?

Jawabnya terletak pada tongkat komando yang bernama harga-harga (prices) barang dan jasa. Kalau harga tidak cocok maka kerjasama tidak akan terjadi, dan tidak terjadi pula saling memberi manfaat. Prices ini akan memberi komando kepada resources(barang dan jasa) kemana mereka harus bergerak untuk pindah tempat dan pindah tangan (kepemilikan).

Itulah kesaktian dari prices.

Do not disturb prices! Ini semboyan World Bank ditahun 70-an yang ditujukan kepada negara-negara yang sedang berkembang. Memang negara-negara sedang berkembang waktu itu mempunyai hobi suka mengganggu prices lewat pajak impor, pajak ekspor dsb. Kalau prices diganggu maka ia akan merusak kerjasama dan selanjutnya akan pudar pula manfaat bagi masyarakat yang semula muncul dari kerjasama. Resource allocation jadi rusak.

Inilah inti dari peran ilmu ekonomi, menerangkan bagaimana resource allocationterjadi di dalam masyarakat. Tentu saja ekonom akan menerangkannya melalui bahasa Indonesia (atau bahasa lainnya) dengan bantuan bahasa matematika di dalam benaknya. Apa boleh buat sih. 🙂

Semoga bermanfaat.

Salam dari Bandung.

 
Leave a comment

Posted by on Thursday, 14 November 2013 in Uncategorized

 

Cara makan kue versi Timor-Leste

Cara makan kue menjadi urusan penting manakala kuenya sebesar cadangan minyak yang dimiliki oleh suatu negara. Cara makan kue ini tiba-tiba menjadi pelik manakala sudah disadari bahwa sesungguhnya kue tadi adalah milik seluruh generasi, bukan hanya milik generasi sekarang.

Dengan demikian masalah makan kue di dalam ilmu ekonomi berada di bawah topik intertemporal choice. Persoalannya, akan dicari dan diputuskan seberapa besar kue yang akan dimakan oleh generasi sekarang dan seberapa besar kue yang akan dimakan oleh generasi-generasi yang akan datang. Kriteria pembagian kuenya adalah bahwa semua generasi menjadi sejahtera dengan memakan kuenya masing-masing secara optimal. Tidak ada generasi yang dirugikan.

Bagaimana cara Indonesia memakan kuenya?

Di Indonesia kue diperlakukan seperti milik generasi sekarang saja. Akibatnya, kue yang sudah terhidang akan habis seketika dimakan oleh generasi sekarang. Sekali kue sudah tersaji, tidak akan tersisa untuk generasi-generasi yang akan datang.

Bagaimana cara melihatnya?

Setiap kali kue (minyak, gas dll.) terhidang, kue tersebut akan langsung dimasukkan ke dalam APBN. Dana APBN harus dihabiskan pada tahun anggaran itu pula. Entah dengan cara apapun untuk menghabiskannya. Yang penting kue harus habis dimakan sekarang. Semakin cepat suatu lembaga memakan kuenya, semakin dipuji ia sebagai lembaga yang baik karena sanggup menyerap anggaran dengan cepat.

Lebih hebat lagi manakala generasi sekarang diberi insentif untuk terburu-buru menghabiskan kuenya. Insentifnya berupa subsidi BBM. Insentif ini seolah bilang: ‘Ayo cepat-cepat saja habiskan kuenya sekarang juga’. Maka akan semakin cepat habis kue yang terhidang untuk dimakan oleh generasi sekarang saja.

Jatah kue buat cucu-cicit kita yang belum lahir pun sudah buru-buru kita makan sekarang juga. Cucu kita mungkin hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan kerakusan kakek-neneknya. Sementara piring mereka tetap kosong, tak tersisa lagi jatah kue untuk dimakan mereka.

Masalah menjadi semakin runyam manakala nilai subsidi BBM ternyata lebih besar dari pendapatan pemerintah yang diperoleh dari minyak. Bila ini yang telah terjadi, malah kita sebetulnya berada di posisi sedang hutang kue. Jadi kelak di piring cucu kita tidak akan ditemui jatah kue mereka dan malahan mereka harus menanggung beban hutang yang diperbuat oleh kerakusan kakek-neneknya. Apakah kita telah berlaku adil terhadap anak-cucu-cicit kita sendiri?

Adakah alternatif lain cara makan kue?

Mungkin ada. Kebetulan saja yang akan dijadikan ilustrasi adalah negara Timor-Leste. Penghasilan Timor-Leste dari minyak  tidak langsung masuk APBN. Penghasilan tersebut ditaruh dulu di Petroleum Fund. Ini merupakan sebuah lembaga yang akan mengelola kekayaan negara yang berasal dari minyak (Timor-Leste’s Sovereign Wealth Fund). Sampai bulan Juli 2013 dana ini terkumpul sebesar US$14 milyar.

Pemerintah Timor-Leste baru pertama kali menggunakan dana ini pada bulan Juli 2013 dan besarnya hanya US$180 juta, ini sekitar 1.3% saja dari  US$14 milyar tadi. Bila langkah serupa ini bisa terus dipertahankan, ini tentu langkah yang sangat bijaksana. Itu artinya pemerintah Timor-Leste sangat mempertimbangkan pengelolaan kue untuk generasi-generasi yang akan datang. Kue tidak cepat-cepat dihabiskan oleh generasi sekarang saja. Ini masalah sustainability, tidak lagi sekedar optimality.

Informasi tentang hal ini bisa dilihat pada halaman 128-129 dari referensi berikut:

http://www.worldbank.org/content/dam/Worldbank/document/EAP/region/eap-update-october-2013.pdf.

Lebih hebat lagi, tidak ada subsidi BBM di Timor-Leste. Bensin dijual dengan harga US$1.4.  (seiktar Rp15.000,-) per liter. Andaikan pemerintah Timor-Leste memberikan subsidi BBM untuk masyarakatnya, tentulah dana subsidinya akan diambilkan dari Petroleum Fund. Bila hal itu terjadi, maka pemerintah Timor-Leste akan dinilai sangat tega mengambil jatah milik generasi yang akan datang untuk diberikan kepada generasi sekarang. Untunglah pada kenyataannya hal itu tidak terjadi (atau belum terjadi?).

Persoalan yang pelik sejenis ini memang selayaknya ditangani dengan hati-hati. Salah satu bentuk kehati-hatian bisa terungkap bila persoalan tersebut diformulasikan dan dipecahkan dulu dengan model matematika. Dari model ini, kelak bisa diketahui seberapa besar jatah kue untuk generasi sekarang dan seberapa besar jatah kue untuk generasi-generasi yang akan datang.

Alat yang paling cocok untuk ini adalah dynamic programming karena persoalan makan kue termasuk ke dalam permasalahan optimasi antar generasi (intertemporal optimization). Cake-Eating Problemmemang biasanya akan dijadikan alat peraga bagi kuliah tersebut. Memang sesungguhnyalah dynamic programming merupakan alat utama bagi seseorang yang ingin belajar advance macroeconomics di program studi S3 ilmu ekonomi.

Bagi yang berminat bisa melihat paper karya Partha Dasgupta dan Geoffrey Heal yang berjudul The Optimal Depletion of Exhaustible Resources di The Review of Economic Studies, Vol. 41, 1974. Ini model matematika di perioda awal dalam membahas tentang Cake-Eating Problem yang diimplementasikan untuk masalah pengalokasian natural resources, terutama yang non-renewable. Bila anda cukup beruntung, paper ini bisa diunduh di internet.

Semoga bermanfaat.

Salam dari Bandung.

 
Leave a comment

Posted by on Monday, 11 November 2013 in Ekonomi dan Keuangan, Matematika

 

Percakapan dengan hujan

hujan, apa kabar?

seperti biasanya kau hanya tersenyum,

dan secara rahasia kau tebarkan harapan.

oOo

Bandung, 8 November 2013

 
Leave a comment

Posted by on Friday, 8 November 2013 in Puisi

 

Tags:

Bunga menyapamu

I

saat pohon berbunga

ia sengaja menyapamu

dengan bahasa keindahan.

II

biar saja pohon memilih sendiri saat berbunga

asalkan akhirnya ia menemukan keindahan hatimu.

oOo

Bandung, 6/11/2013

 
Leave a comment

Posted by on Wednesday, 6 November 2013 in Puisi

 

Tags:

Kata dan rasa

upaya sederhana,

semoga bisa,

mendamaikan kata

dengan rasa

oOo

Bandung, 1 Muharram 1435 – 5 November 2013

 
Leave a comment

Posted by on Tuesday, 5 November 2013 in Puisi

 

Tags:

Dutch disease dan fenomena Ujian Nasional

Ujian nasional (UN) adalah produk kreatifitas anak bangsa Indonesia dan Kementrian Diknas sudah terlanjur berpendapat bahwa UN adalah baik dan penting bagi bangsa.

Ketika masyarakat (kepala sekolah, guru, orang tua siswa, siswa, dll.) mengikuti logika Diknas maka resources (tenaga, pikiran, waktu, ruang, uang, dll.) akan mulai bergerak dan berkumpul di seputar UN. Urusan sekolah yang tidak terkait dengan UN (sektor non-UN) dengan mudah akan tersisihkan dan bisa relatif dianggap tidak penting sehingga tidak akan mendapatkan­ resources yang memadai. Segala kehormatan sekolah dipertaruhkan di UN.

Demi sukses mencapai UN, terutama untuk kelas tiga sekolah menengah, sekolah bisa secara naluriah mengabaikan sektor non-UN dan kegiatan sehari-harinya terkonsentrasi ke pembahasan materi soal-soal UN. Pendidikan di sekolah tiba-tiba berubah seperti kegiatan lembaga bimbingan belajar.

Apakah ini penggambaran yang berlebihan? Mungkin saja iya: lebay deh kamu. 🙂

Namun yang menarik adalah bahwa fenomena UN ini mirip dengan fenomena Dutch disease dalam ilmu ekonomi. Dutch disease adalah fenomena dari penemuan natural resources yang semula dianggap sebagai hal yang baik dan penting bagi suatu bangsa namun ternyata secara alamiah ia menyimpan potensi yang bisa merusak tatanan perekonomian nasional secara keseluruhan.

Bagaimana menjelaskannya?

Sebelum tahun 1959, landasan yang kokoh dari perekonomian Belanda terletak pada sektor produk olahan (manufacturing) dan pertanian untuk diekspor. Pada tahun 1959 ditemukan cadangan gas alam (natural gas) dalam jumlah besar di Belanda. Setelah ditambang dan diekspor, gas alam ini menghasilkan devisa yang besar. Ketika devisa ini dikonversikan ke dalam mata uang Belanda guilder (gulden) maka gulden mengalami penguatan dan ini mengakibatkan gejala real exchange rate appreciation. Gulden mengalami overvalued.

Dengan gulden yang overvalued maka harga-harga produk olahan dan pertanian Belanda menjadi relatif mahal di pasar internasional. Kedua sektor perekonomian ini menjadi tidak kompetitif lagi di pasar internasional. Akibatnya ekspor dari kedua sektor ini mengalami penurunan yang drastis. Profit dari kedua sektor ini pun mengalami penurunan yang drastis pula. Bila suatu sektor perekonomian mengalami penurunan profit yang drastis maka resources (modal, pikiran, waktu dsb.) tidak akan mengalir kesana. Akibatnya sektor produk olahan dan pertanian di Belanda mengalami kemunduran. Padahal kedua sektor ini semula merupakan landasan yang kuat dari perekonomian Belanda dan fondasi ini telah mulai digerogoti oleh penemuan gas alam.

Masalah menjadi semakin runyam manakala kelak cadangan gas alam mulai menipis dan sektor  produk olahan dan pertanian sudah terlanjur rusak. Fondasi perekonomian Belanda pun rusak. Belanda memasuki masa resesi di tahun 1960-an.

Dutch disease dialami Indonesia pada tahun 1974 dan 1979 dengan minyaknya, dialami Australia di abad 19 dengan emasnya, dialami Rusia di tahun 2000-an dengan minyak dan gas alamnya, ialami Spanyol di abad 16 dengan emasnya, dan masih banyak lagi.

Itulah fenomena yang disebut Dutch disease. Sesuatu yang semula dianggap baik dan penting tapi ternyata ia menyimpan potensi yang merusak dengan hebat.

Apakah sistem pendidikan di Indonesia mengalami Dutch disease dengan UN-nya? Entahlah.

Tambahan informasi: topik Dutch disease ini mengantarkan Mari Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) menyelesaikan disertsi PhD di University of California, Davis, tahun 1986 dan mengantarkan Rizal Ramli (mantan Menteri Perekonomian) menyeesaikan disertasi PhD di Boston University, tahun 1990.

Catatan:

* Bagi yang tertarik melihat model metematik untuk Dutch disease, silakan diklik link berikut:

http://www.sublettewyo.com/archives/43/booming_secor_and_de-industrialization[1].pdf

 
2 Comments

Posted by on Thursday, 31 October 2013 in Ekonomi dan Keuangan, Pendidikan

 

Tags: ,